Apresiasi

Apresiasi itu muncul pertama kali saat kita sudah mulai bisa menggerakkan badan secara mandiri. Tak ada patokan baku berdasar umur, tapi rerata kita mampu bergerak secara mandiri dan mengalami dorongan mendapatkan pengakuan mulai umur 2-3 tahun.

Wujudnya adalah perilaku yang biasa disebut sebagai sok gede. Mau melakukan segalanya secara mandiri dan disebut sudah gede/besar dan pintar, padahal masih belum kenal risiko sehingga banyak risiko yang berbahaya. Oleh karenanya butuh kesempatan untuk melakukan hal-hal yang aman, secara mandiri.

Kemudian, dorongan itu mereda (rerata sampai kisaran umur 5–6 tahun) dan baru muncul lagi saat kita menilai diri sudah mampu hidup mandiri tanpa dukungan orang lain. Sekali lagi, tak ada patokan baku berdasar umur, tapi rerata mulai muncul di kisaran umur 9-10 tahun.

Wujudnya adalah perilaku yang biasa aku sebut sebagai sok penting. mau mengalami sensasi “untung ada saya” atau “ini loh saya” atau “keren kan saya”. Oleh karenanya butuh melakukan hal-hal yang bisa menghasilkan perasaan senang karena diandalkan, karena bisa bermanfaat buat orang lain.

Fase ini jadi lebih penting daripada sok gede karena terpenuhinya kebutuhan sok penting akan jadi bekal dalam sikap bertanggungjawab atas orang lain. Hal tersebut adalah modal buat belajar memimpin atau mengelola orang. Termasuk di dalamnya adalah kehidupan berkeluarga.

Kemudian, dorongan itu mereda (rerata sampai kisaran umur 14-15 tahun) dan diharapkan selesai sampai di situ. Namun, karena banyak orang yang tidak belajar atau belajar tapi tak tuntas sehingga gagal jadi pribadi dewasa.

Akhirnya dorongan mendapat pengakuan ini muncul lagi saat badan dinilai sudah renta. Wujudnya adalah perilaku yang biasa aku sebut sebagai sok kuat. Biasanya orang-orang menyebutnya sebagai puber kedua.

Ingin mengalami sensasi di-tua-kan/dihormati/dll. Oleh karenanya butuh belajar buat sanggup jadi dewasa sebelum fase sok penting terlewat, supaya fase sok kuat tidak terjadi atau minimal tak mengganggu tanggungjawab, andai hal itu tetap terjadi.

Tetapi kalau terjadi dan mengganggu tanggungjawab, ya pastikan saja dia sanggup bertanggungjawab atas keputusan yang dibuatnya saat itu.

#jurnalatihati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s