Selamat Jalan, Bung Glenn..

Glenn Fredly Deviano Latuihamallo

30 September 1975 – 8 April 2020

🌼🌼🌼

Sumber: Mimpi-mimpi Glenn Fredly

Pada sebuah perjumpaan dengan Glenn Fredly, Angga Dwimas Sasongko sempat merekomendasikan agar ia membuat satu album khusus berisi lagu-lagu tentang keadilan dan kemanusiaan, layaknya lagu-lagu milik Iwan Fals. Usul sutradara berusia 35 tahun itu langsung dimentahkan oleh Glenn.

“Kata Kak Glenn, kalau saya tiba-tiba berubah membuat lagu ballads, mereka tidak akan datang. Kalau saya kehilangan fans, suara yang ingin saya sampaikan akan lebih sedikit yang mendengar,” kata Angga, bercerita dalam sesi “Ngobrol Lewat Zoom” tentang seni dan perjuangan perdamaian Glenn Fredly, Kamis lalu.

Bagi Angga, bertahan untuk membawakan lagu-lagu bergenre pop dan berlirik romansa merupakan bentuk intelektualitas berkesenian penyanyi berdarah Maluku itu. Ia meyakini Glenn tahu bahwa lagu pop bisa digunakan untuk menyuarakan kegelisahannya tentang keadilan, kemanusiaan, dan semua persoalan hak asasi manusia.

Lagu berjudul Menanti Arah pada album Luka, Cinta, dan Merdeka (2012) adalah salah satu contoh cara Glenn menyuarakan keadilan bagi orang-orang yang kehilangan haknya. “Sebagai repertoar, itu sangat bermakna karena dia menyelipkannya di tengah lagu-lagu cinta.”

Angga mengenal Glenn pada 2006 setelah membuatkan video dokumenter yang menjadi proyek penelitian di Ambon. Melihat video itu, Glenn spontan meminta Angga segera memfilmkan hasil proyek tersebut. Sejak saat itulah mereka berteman akrab. Mereka lalu terlibat dalam beberapa kegiatan kemanusiaan.

Misalnya, penggalangan dukungan untuk menyelamatkan Kepulauan Aru dari alih fungsi lahan perkebunan tebu, penolakan reklamasi Tanjung Benoa, advokasi tahanan politik dari Maluku dan Papua, dan proyek Suara dari Timur atau Voice for The East. “Setiap memulai proyek bersama, Glenn tidak pernah memulai dengan kata berapa, tapi apa dan mengapa,” ujar Angga.

Kolaborasi keduanya berlanjut dengan gerakan Save Mentawai setelah tsunami melanda Mentawai pada 2010. Glenn saat itu sudah mendirikan Green Music Foundation (GMF). Bersama sejumlah relawan lain, mereka masuk untuk memimpin kluster transportasi di sana sambil membangun sekolah, fasilitas kesehatan, mengirim tenaga kesehatan, vaksin, dan obat-obatan. GMF dan Save Mentawai, Angga menuturkan, adalah salah satu kelompok relawan yang datang paling awal dan pulang akhir setelah bencana itu datang.

Intensitas perhatian Glenn semakin kuat setelah berinteraksi dengan Franky Sahilatua. Melalui Franky, Angga menuturkan, Glenn menjadi lebih tajam dalam melihat persoalan di timur Indonesia. Glenn pun mulai membangun Yayasan Rumah Beta sebagai poros kebudayaan di Maluku. Melalui Rumah Beta, Glenn mengumpulkan banyak anak muda dengan berbagai latar belakang untuk lepas dari sejarah konflik sektarian dan memupus saling curiga melalui kesenian.

Di situ juga, pendirian Glenn tumbuh. Baginya, tidak ada Indonesia tanpa Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. “Kalimat itu adalah kegelisahannya. Saya saksi bagaimana ia sangat mencintai Indonesia, tapi sering kecewa pada kenyataan masyarakat Indonesia timur yang selalu ditinggalkan,” tutur Angga.

Untuk itulah, selama hampir 10 tahun terakhir, Glenn kerap melobi pemerintah untuk melihat wilayah timur Indonesia dengan cara berbeda. Namun langkah Glenn harus terhenti pada Rabu, 8 April lalu. Penyanyi bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo itu meninggal akibat sakit radang selaput otak atau meningitis pada usia 44 tahun.

Angga mengatakan saat ini ia bersama sejumlah rekan dalam proses membentuk Cahaya dari Timur Foundation untuk melanjutkan perjuangan Glenn dan mimpi-mimpinya. “Agar lebih sustain dan bisa diestafetkan untuk waktu yang lama.”

Mimpi-mimpi keadilan dan kemanusiaan di wilayah timur Indonesia juga tercatat dalam ingatan Jaringan Gusdurian. Alissa Qathrunnada Wahid, Koordinator Jaringan Gusdurian, masih ingat betul pertemuannya dengan Glenn tak lama setelah Abdurrahman Wahid wafat pada 2009. Keduanya menemukan kecocokan setelah berbalas cuitan di Twitter tentang nilai-nilai kehidupan yang dianut Gus Dur. “Ada Glenn dan beberapa teman seniman lain, seperti Marzuki Kill the DJ, yang ternyata punya nilai perjuangan yang sama,” kata dia.

Sejak saat itulah, kata Alissa, Glenn hampir selalu terlibat dalam kegiatan Jaringan Gusdurian, seperti Forum Jumat Gusdurian dan Haul Gus Dur. Glenn pun selalu membuka diri ketika Gusdurian sedang mencanangkan kampanye tentang perdamaian dan keberagaman. “Jadi, memang Glenn itu Gusdurian, karena dia mengagumi perjuangan Gus Dur dan kerja-kerjanya. Ketika kampanye keberagaman, kami minta tolong agar Glenn menyampaikan pesan-pesan ini,” kata putri sulung Abdurrahman Wahid ini.

Diskusi Alissa dan Glenn semakin intens ketika membincangkan tentang Maluku dan Papua, yang mengerucut pada diskusi tentang persoalan hak asasi manusia. Menurut Alissa, persoalan HAM itu mengukuhkan keberpihakan Glenn pada timur Indonesia. “Bagi Glenn, sangat terasa bahwa Indonesia timur bukan hanya Maluku, tapi juga Papua. Ada kondisi yang belum adil, dan dia menjadi orang yang cukup terluka atas situasi yang terjadi sekarang,” kata dia.

Terakhir, Jaringan Gusdurian dan Glenn mengusung tanda pagar #salingjaga untuk menggalang donasi buat warga yang rentan akibat wabah virus corona. Alissa mengatakan, bagi Glenn, musik bukan sekadar hiburan, tapi juga jalan perjuangan yang harus dihidupi untuk membuat masyarakat dan Indonesia yang semakin baik. “Yang sangat penting, dia peduli dengan menggunakan talentanya untuk berjuang.”

Kepedulian Glenn pada isu-isu kemanusiaan dan kebinekaan serta kedekatannya dengan keluarga Gus Dur juga diungkapkan Ganjar Pranowo. Melalui akun Instagram-nya, Gubernur Jawa Tengah itu berbagi cerita tentang pertemuannya dengan Glenn. Suatu ketika Sinta Nuriyah, istri Gus Dur, menggelar acara buka puasa bersama di Semarang pada 2016. Tapi acara itu menuai protes dari organisasi massa Islam setempat. Acara yang semula akan digelar di Paroki Kristus Raja Ungaran, Semarang, tersebut dipindah ke Gereja Santo Yakobus Zebedeus dan Balai Kelurahan Pudak Payung, Semarang.

“Glenn marah-marah melalui Twitter kepada saya, karena saat itu Bu Sinta Nuriyah sedang mengadakan acara buka puasa bersama dan diprotes,” kata Ganjar.

Ganjar pun langsung mencari kontak Glenn dan menghubunginya. Sejak saat itulah, Ganjar dan Glenn menjalin kedekatan. Pada berbagai pertunjukan, termasuk saat duet Glenn and Tompi, Ganjar selalu datang dan menyapa. “Kami berdiskusi banyak, bercanda-ria, kadang-kadang Glenn juga sinis, tapi pertanyaannya cerdas. Itulah Glenn.”

  

Usman Hamid, 44 tahun, masih ingat betul wajah resah Glenn Fredly ketika bertandang ke Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada November 2016. Glenn datang untuk bertemu dengan tahanan politik, Johan Teterissa, yang dipidana karena mengibarkan bendera separatis Republik Maluku Selatan dalam gelaran tarian Cakalele di Lapangan Merdeka, Ambon, pada 2007. Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjadi presiden, berada di tengah pengibaran bendera tersebut. “Glenn sudah banyak aktif di forum masyarakat Maluku. Bukan hanya pemenjaraannya, tapi tekanan terhadap narapidana yang membuatnya merasa ada yang tidak beres,” kata Direktur Amnesty International Indonesia itu.

Buat Glenn, Johan Teterissa tidak layak mendapat hukuman. Setelah mengunjungi Johan, kata Usman, Glenn sempat meminta data terbaru tahanan politik asal Maluku dan Papua kepadanya. Usman masih ingat data sekitar 57 tahanan politik asal Papua dan lima tahanan politik asal Maluku yang diberikan kepada Glenn. Ia meminta pemerintah membebaskan tahanan politik. “Tuntutannya sampai turun, kalau enggak bisa bebas, minimal pindahkan mereka ke penjara yang terdekat dari kampungnya,” kata dia. Johan dibebaskan pada 25 Desember 2018 dan meninggal tak lama setelahnya.

Usman berkenalan dengan Glenn saat peluncuran album Slank, The Big Hip, di Jakarta pada 2008. Saat itu Usman menjabat Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Dari situ, ketertarikan Glenn pada isu HAM mulai terlihat. Glenn memanfaatkan panggung musik untuk mengkampanyekan perlindungan hak asasi manusia, khususnya kelompok beragama.

Suatu ketika, Usman sedang mengadvokasi kasus penembakan petani di Takalar, Sulawesi Selatan. Ia menghubungi Glenn, yang sedang dalam persiapan manggung di Makassar, dan menceritakan kasus petani tersebut. Glenn pun memberikan tiket gold pertunjukan kepada Usman. “Di situ dia ngomong soal konflik Ambon, keterbelakangan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia timur, serta Papua,” kata Usman. Glenn beberapa kali mampir ke kantor Kontras, bukan untuk mengisi acara, melainkan sekadar mengikuti diskusi.

Glenn pun diikutsertakan ketika Kontras mengusung kampanye perdamaian budaya populer bertajuk “Human Loves Human” dalam peringatan satu dasawarsa Kontras. Sejumlah seniman lain yang ikut di antaranya sineas Mira Lesmana, Riri Riza, artis Nicholas Saputra, dan grup musik indie Efek Rumah Kaca. Mereka bersepakat bahwa persoalan HAM menghadapi tantangan berat untuk menjadi wacana publik yang dianggap rigid. Para seniman diminta membuat isu-isu sosial dan hak asasi menjadi lebih familiar. “Glenn ada di barisan yang saya gandeng untuk memperkuat gerakan HAM,” ujarnya.

Usman mencatat keterlibatan Glenn dalam beberapa kegiatan kemanusiaan, salah satunya menemui korban dan keluarganya dari peristiwa 1965 dan 1998. Glenn beberapa kali mendatangi Aksi Kamisan sebagai solidaritas untuk korban Tragedi Semanggi 1998 dan membantu gerakan Omah Munir pada 2012. Ia juga kerap mengisi program pendidikan HAM, dan membantu sejumlah penggalangan dukungan kegiatan kemanusiaan. Semua kegiatan itu dilalui dengan mengesampingkan manajemen industri yang fleksibel dan tidak protokoler.

Meski begitu, bagi Usman, sosok Glenn bukan tanpa kelemahan. Ia menyadari bahwa keputusan Glenn dalam dukung-mendukung kontes elektoral pada dua pemilihan umum menuai kritik dari kalangan aktivis HAM. Dalam sebuah pertemuan di kantor Amnesty International Indonesia, kata Usman, Glenn kewalahan menjawab berbagai kritik dari para koleganya. “Tapi saya menangkap keputusan itu karena Glenn adalah orang yang menyadari patologi penyakit demokrasi di Indonesia yang tidak menyediakan banyak pilihan.”

Adapun inisiator Provokasi Damai Maluku, Jacky Manuputty, mengatakan bahwa kehancuran Maluku akibat konflik sektarian turut membangkitkan semangat Glenn untuk terlibat dalam kegiatan Bina Damai di Maluku. Dia pun tak tanggung-tanggung belajar dari para senior, seperti Franky Sahilatua, Abdurrahman Wahid, hingga teman-teman aktivis Kontras dan PUSAD Paramadina.

Melihat ketimpangan antara barat dan timur Indonesia, ia berkali-kali mengajak tokoh Ambon ke Jakarta untuk berdiskusi tentang Indonesia dari persepsi mereka. “Jakarta bukan segala-galanya untuk segala yang dikerjakan di Indonesia,” kata dia, mengingat perkataan Glenn.

Dengan ketenarannya, Glenn ogah masuk ke ranah politik. Menurut Jacky, Glenn konsisten memilih jalur seni dan budaya populer sebagai medium untuk mengkampanyekan idealisme tentang kemanusiaan dan hak asasi manusia. Kata Glenn kepadanya, “Di era pop culture, semua harus dilarutkan agar orang bisa menerima dengan mudah. Ini dunia yang saya punya dan saya bisa menyampaikannya secara populis.” ARKHELAUS WISNU

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s